| what should i do? |
Ibu, apa kabarmu disana?
Baik-baik-kah dirimu? Kuharap begitu.
Aku ingin mengenalkan (calon) kekasihku, bu.
Dia baik hati, cantik, pandai dan memesona.
Namanya.... Ah sudahlah, kami sudah berjanji akan merahasiakannya, pun dengan hubungan kami.
Aku tak mengerti mengapa bisa hatiku terjatuh, bu.
Dia baik, bu. Bukan, bukan padaku saja.
Dia memang anak yang baik, pun kepada semua orang.
Dia baik sekali.
Tidak, tidak sekali. Dia baik berkali-kali, bu.
Aku jatuh cinta pada puisinya.
Aku jatuh cinta pada senyumnya yang lekat setiap melihatku, pun dengan siapapun yang dia kenal.
Aku jatuh cinta pada kedua bola mata dibalik kaca itu, bu.
Dia terlihat lebih cantik 50% ketika mengenakannya.
Aku jatuh cinta pada hatinya, bu.
Aku cemburu,
Aku cemburu ketika ia bersama pria lain, bu.
Entah temanku sendiri atau siapapun.
Bahkan dengan sepi yang setia menemaninya pun, aku cemburu.
Dan engkau pun tahu bahwa sebagian besar puisiku terinspirasinya.
Sungguh, aku jatuh cinta, bu.
Aku berjanji tak akan menyakitinya.
Aku tak mau ia pergi, bu.
Aku tak tahu dia mencintaiku atau tidak.
Yang jelas, dia sering menulis "aku mencintaimu" pada setiap tulisannya.
Aku tak tahu 'mu' yang dimaksud adalah aku atau bukan.
Aku hanya tidak ingin terlalu berharap, bu.
Harapan hanya akan buatku sakit jika berbanding terbalik dengan kenyataan.
Tetapi, jika yang ia maksud memang benar aku. Aku akan senang sekali.
Tapi aku tak tahu harus bagaimana, bu. Ini benar-benar rumit.
Aku yakin ibu sudah mengetahuinya dari balik duniaNya.
Dan akupun yakin, ibu akan setuju jika aku bersamanya, kan?
Tapi, Sampai kapan aku harus menjaga rahasia ini?
Apa aku harus meniru embun?
Entah rahasia apa yang disembunyikan embun, hingga mentari datang setiap pagi dan menghapus setiap butir yang dituliskannya pada selembar daun?
Aku pun tak tahu. Mungkin mereka pun juga tak akan pernah mengetahui rahasia kami.
Atau bahkan dia sendiri pun tak tahu, bu.
Kau tahu kalo dia itu banyak yang menyukainya termasuk teman-temanku kan, bu?
Aku hanya ingin bahagia bersamanya, bu.
Seperti umur yang memakan nyawamu, mungkin selama itu aku akan mencintainya.
Ah, tetiba hujan turun dari langit, pun dari langit-langit mataku. Aku rindu padamu, bu. Aku juga rindu padanya.
Aku mencintainya, sepertiku mencintaimu, ibu. :’)
No comments:
Post a Comment