Saturday, October 29, 2011

Tajam Hujanku

should I cry?




Tajam hujanku,

Kini sudah terlanjur mencintaimu
Payung terbuka dan bergoyangan ditangan kananku
Air yang menetes dari pinggir pelupuk payung
Jatuh ke tanah hati, terinjak sepatu rindu

Uap air berembun dikaca jendela hatimu
Kau relakan kekalahan titik-titik cinta kita
Seketika hujan deras dari langit-langit mataku,
tak terbendung
Kedalam kawah luka, tersandung.

"Mungkin belum saatnya, atau mungkin tidak saat ini", kataku dalam hati
Jika benar kau takdirku
Tangan Tuhan takkan jauh dari kita.

Mencintaimu, ialah kendaraan yang akan selalu kugunakan
Sesambil menunggu hari bahagia kita.

Friday, October 28, 2011

Yang Terlepas

you loose our love




Bintang-bintang yang diatas kepalamu itu
Ialah pecahan balon-balon hatiku
Yang terlepas dari tanganmu

Ia adalah bola lampu, yang diatas meja
Ketika kau membaca sajak-sajakku
Yang kau terima dari sebuah surat
Yang ku kirim, hanya untukmu

Dan kau berkata dalam hati
Apakah ‘kamu’ yang kamu maksud ialah aku?”

Tepat, pertanyaan yang sama
Ketika kubaca semua tulisan-tulisanmu.

aku mencintaimu

Friday, October 21, 2011

Hidangan Untuk Orangtuaku dan Orangtuamu

a pieces of love


Telah selesai kutulis secarik resep rahasia.
Tiada mengetahuinya selain aku dan Tuhanku.
Aku ingin membuat hidanganku bersamamu.

Mula-mula kusiapkan bahan-bahan.
Kamu, aku dan beberapa bahan tambahan lain seperti cinta, rindu, cemburu, dan lain sebagainya.

Kupotong-potong semua yang mengganggu hubungan kita.
Sementara kamu menghaluskan bumbu-bumbu cinta.

Kunyalakan api cemburu yang besar sebagai bahan bakar,
setelah melihatmu dengannya dibalik bilik hatimu.

Ah, hati-hati. Sudah kubilang bilah-bilah kata pisauku memang tajam.
Maafkan aku membuat hatimu terajam.

Kulanjutkan menumis bumbu cinta yang kau haluskan tadi,
hingga terhirup aroma harum sampai ubun-ubun hidung.
Membuat tetangga iri melihat lelaku kita yang semakin diaduk kemesraan.

Sebab ku tak ingin kau kedinginan,
ku tambahkan dekap pelukku,
agar masakan kita tetap hangat,
walau ditiup sikap dinginmu.

Tak lupa ku tambahkan segenggam mimpi,
agar apa yang kelak terjadi,
kita dapat merasakannya dengan anak-cucu kita.

Kutuang segelas air hujan dari bola matamu sebagai penguat rasa.
Dan aku sadar, tiada cerita yang sempurna. Seperti halnya mimpi dan kenyataan.

Kukecilkan api cemburu, hanya agar kaldu air matamu tak cepat menggumpal, tak gempar.

Ku olah hubungan kita hingga benar-benar masak.
Sesambil mengecap rasa, ku aduk, lalu kukecup kening dan dua potong bibirmu yang ranum.
Rasanya manis layaknya senyummu, gurih seperti tuturmu, terasa asin air matamu.
Tetiba kurasa pahit di lidah hati.
Ah, ini pasti ulah cemburu yang terlalu besar, batinku.

Selanjutnya kumasukkan irisan senyummu,
agar lebih manis dan tetap tinggal di dinding ingatan
jika engkau ingin mendahuluiku dalam urusan kematian.

Tak lupa kutiupkan doa, sebagai apa yang menyelimuti hati.
Hanya karena ku tak ingin yang asing berbuat iseng pada masakanku,
Yang membuatnya usang.

Kutuang hubungan kita kedalam pinggan
Ah, sebentar. aku dapat merasakan, betapa bahagianya aku saat itu.

Telah kusiapkan sebatang rindu sebagai garnishnya
Dan jika masakanku telah matang, kusajikan masakanku kepada orangtuaku
Tak lupa kubagi setengah porsinya untuk kubawa kedepan pintu keluargamu.
Dan kepada jendela tetangga kita, kuberi mereka lezatnya aroma kebahagiaan
Yang keluar dari bilik wajan.

Maukah kau temani aku makan malam dengan masakanku?
Aku hanya ingin rasakan lezatnya masadepan, denganmu.

Aku mencintaimu.

Tuesday, October 18, 2011

Dia Pilihanku, Bu

it's gonna fly away?
what should i do?


Ibu, apa kabarmu disana?
Baik-baik-kah dirimu? Kuharap begitu.

Aku ingin mengenalkan (calon) kekasihku, bu.

Dia baik hati, cantik, pandai dan memesona.
Namanya.... Ah sudahlah, kami sudah berjanji akan merahasiakannya, pun dengan hubungan kami.
Aku tak mengerti mengapa bisa hatiku terjatuh, bu.

Dia baik, bu. Bukan, bukan padaku saja.
Dia memang anak yang baik, pun kepada semua orang.
Dia baik sekali.
Tidak, tidak sekali. Dia baik berkali-kali, bu.

Aku jatuh cinta pada puisinya.
Aku jatuh cinta pada senyumnya yang lekat setiap melihatku, pun dengan siapapun yang dia kenal.
Aku jatuh cinta pada kedua bola mata dibalik kaca itu, bu.
Dia terlihat lebih cantik 50% ketika mengenakannya.
Aku jatuh cinta pada hatinya, bu.

Aku cemburu,
Aku cemburu ketika ia bersama pria lain, bu.
Entah temanku sendiri atau siapapun.
Bahkan dengan sepi yang setia menemaninya pun, aku cemburu.

Dan engkau pun tahu bahwa sebagian besar puisiku terinspirasinya.
Sungguh, aku jatuh cinta, bu.
Aku berjanji tak akan menyakitinya.
Aku tak mau ia pergi, bu.

Aku tak tahu dia mencintaiku atau tidak.
Yang jelas, dia sering menulis "aku mencintaimu" pada setiap tulisannya.
Aku tak tahu 'mu' yang dimaksud adalah aku atau bukan.
Aku hanya tidak ingin terlalu berharap, bu.
Harapan hanya akan buatku sakit jika berbanding terbalik dengan kenyataan.
Tetapi, jika yang ia maksud memang benar aku. Aku akan senang sekali.
Tapi aku tak tahu harus bagaimana, bu. Ini benar-benar rumit.

Aku yakin ibu sudah mengetahuinya dari balik duniaNya.
Dan akupun yakin, ibu akan setuju jika aku bersamanya, kan?

Tapi, Sampai kapan aku harus menjaga rahasia ini?
Apa aku harus meniru embun?
Entah rahasia apa yang disembunyikan embun, hingga mentari datang setiap pagi dan menghapus setiap butir yang dituliskannya pada selembar daun?
Aku pun tak tahu. Mungkin mereka pun juga tak akan pernah mengetahui rahasia kami.
Atau bahkan dia sendiri pun tak tahu, bu.

Kau tahu kalo dia itu banyak yang menyukainya termasuk teman-temanku kan, bu?
Aku hanya ingin bahagia bersamanya, bu.
Seperti umur yang memakan nyawamu, mungkin selama itu aku akan mencintainya.

Ah, tetiba hujan turun dari langit, pun dari langit-langit mataku. Aku rindu padamu, bu. Aku juga rindu padanya.

Aku mencintainya, sepertiku mencintaimu, ibu. :’)