Sunday, January 22, 2012

Aku Ingin Menjadi Ruangan Itu

hug me tight
Dua kursi berwarna cokelat
Satu meja besar berwarna senada
Kita menghabiskan waktu di sana
Di ruang tamumu dengan secangkir es coklat

Mencuri beberapa ciuman singkat
Mencuri dekap-dekap peluk hangat

Ditemani rinai hujan yang mengetuk atap rumahmu
Kita saling memagut, memeluk
Menghangatkan tubuh dengan debar yang tak karuan

Aku ingin selalu menjadi ruangan itu
Di mana aku bisa nyaman berdua denganmu
Tak merasakan jalannya waktu
Di mana kita bisa bercanda-senda
Di mana aku mulai pandai mengeja nafasmu

Monday, January 16, 2012

Aku Merasa Ganjil Denganmu

the odd numbers






1. Mencintaimu, ialah kegiatan yang selalu
2. kubenci. Aku membencimu dan rasanya
3. ingin kulakukan terus-menerus. Aku selalu
4. ingin menyakitimu. Asal kau tahu saja, aku tak pernah
5. merindukanmu. Setiap kita bertemu, ingin sekali rasanya aku
6. menamparmu yang tak pernah perhatian padaku, bahkan aku malas
7. memeluk dan mencium bibirmu. Aku tak pernah mengerti mengapa aku sangat
8. membencimu. Tak pernah ada keinginan lagi untuk
9. mencintaimu. Entah, aku sangat ingin sekali
10. melupakan cinta kita, meluapkan kemarahan dan melupakan keinginan untuk
11. hidup denganmu selamanya. Aku tak pernah
12. merasa senang sedikitpun denganmu. Bahkan, aku selalu
13. tak bahagia jika kamu di sampingku. Percayalah, aku akan selalu
14. menderita dan kaupun juga. Aku tak sanggup lagi untuk menyayangi dan
15. mencintaimu seumur hidupku. Jangan pernah berpikir bahwa aku akan
16. berbuat baik lagi kepadamu. Malah justru aku akan
17. membenci dan melupakanmu. Dengarlah sayang,
18. aku tak akan pernah peduli lagi padamu. Jangan pernah berpikir bahwa
19. aku masih dan akan terus menjadi kekasihmu.


n.b: Sengaja kubuat angka disetiap barisnya. Bacalah dengan tanpa membaca nomor yang genap, dan kamu akan tahu maksudku.

- Terinspirasi dari puisi @hurufkecil

Sunday, December 25, 2011

Perempuan Itu, Kamu

Aku mengenal,
Perempuan kepala batu
Tempat lahir segala anak-anak rindu
Yang cintanya sekuat terumbu
Yang candanya buatku candu


Aku mengenal,
Perempuan rambut gelombang
Yang di harinya penuh bimbang
Tingkahnya dikepalaku tak pernah lekang
Yang setia memelukku dari belakang


Aku mengenal,
Perempuan senyum teduh
Tempatku berlindung jika cemburu dihati sedang gaduh
Berusaha membuang segala ragu jauh-jauh
Ia perempuan tempat terakhir aku berlabuh


Aku mengenal,
Perempuan tubuh kurus
Teduh cintanya selayak hutan pinus
Walau di pegunungan salju yang tandus
Aku tahu, doanya tak putus-putus


Aku mengenal,
Perempuan pusat pukau
Yang terbiasa membuat cemburuku meracau
Yang pekiknya perlahan parau
Padahal aku hanya ingin bebaskannya dari galau


Aku mengenal,
Perempuan hati kilau
Gemulai daun hijau serupa engkau
Sorot bolamatanya yang amat silau
Yang bahagianya memantul di muka danau



Aku mengenal,
Perempuan itu, kamu.

Monday, December 12, 2011

Kita Segalanya

a beautiful noon
Kita kapal sandar yang segera berlayar
Yang di geladaknya di tanami kebun anyelir mekar
Yang tanah-tanahnya ada cinta yang mengakar
Duduk manis menikmati indahnya di ujung pesiar

*

Kita pelaut yang sedang menghadang kemelut
Ini hanya cinta, kau tak perlu takut
Kita hanya sedang hanyut, dalam rindu yang berpagut
Tak usah kalut, kita bisa jahit benang-benangnya yang kusut

*

Kita bebungaan yang sedang bersemai
Kembang dari cinta musim semi
Yang berharap sinar pagi bukan hanya semu
Dari mimpi-mimpi manis putik bunga yang sama

*

Kita ladang padi yang sedang disiangi
Yang batang-batang bencinya dipotong ani-ani
Sedang gelisahnya menelusup tumpukan jerami
Yang rahasianya disembunyikan butiran embun pagi

*

Kita bintang-bintang malam
Yang nyalanya mengusir segala kelam
Memulangkan bahagia dari sunyi yang legam
Obat hati yang tertohok luka-luka lebam

*

Kita ialah segalanya
Yang ingin hidup bersama
Lebih dari sekedar selamanya

Wednesday, November 30, 2011

Kau Bisa

we had ever been there before




Telah kudirikan sebuah kota
di setapak bukit berbatu
tepat dijantungku

Kugantung matahari dari pecahan senyummu,
hanya agar siang tak terlalu cepat membeku

Jika malam tiba,
kutempatkan bintang-bintang yang berjatuhan
dari air matamu

Tak lupa kutiupkan mimpi
sebagai apa yang menyelimuti kota-kotaku

Engkau ialah apa yang selalu berkegiatan,
di kepala dan dadaku

Apa yang berlalu-lalang, berbising-asing,
bertubruk-tabrakan di ingatanku

Rindu adalah penduduknya
dan kenangan tentangmu adalah jalan-jalannya

Kutempatkan pepohonan senyummu
di kanan dan kiri kota
sebagai tempatku berteduh
dari panasnya cemburu

Hanya agar mereka tak merasakan hal yang sama,
ketika segala perasaan kita tertunda

Kau bisa melihatnya dari kejauhan
Kau bisa melihatnya

Aku akan selalu mencintaimu, sayang.